Skip ke Konten

Buku Metamorfosis

26 Mei 2026 oleh
desllonreview
The MetamorphosisThe Metamorphosis by Franz Kafka


Terlepas narasi bahwa buku ini sebenarnya menceritakan atau mirip dengan kehidupan franz kafka atau setidaknya terinsipirasi dari kehidupan franz kafka, tapi saya memiliki interpretasi pribadi dari pandangan psikologi. Kemungkinan, gregor mengidap zoantropi. Kondisi langka di mana seseorang berdelusi menganggap dirinya berubah atau sedang berubah menjadi hewan. (Bukan diagnosis, hanya spekulasi)

Jika saya bedah, pada bagian awal ketika gregor didatangi oleh kepala kepegawaian kantornya, ia begitu excited dalam menceritakan seluruh keluh-kesah dan tekanan kerja yang dialaminya yang mungkin telah diendap dalam dirinya lama sekali. Meskipun, jika dibaca memang tekanan kerjanya terbilang cukup normal dan mengundang ucapan "baru gitu doang" atau "lu mah masih mending... Lah gua..." terutama jika hidup di indonesia dengan keadaan carut-marut seperti ini. Namun, bagaimanapun penderitaan dan kesedihan setiap orang adalah valid berdasarkan taraf hidupnya. Namun, justru itulah yang menyebabkan ia berdelusi bahwa ia adalah serangga sebangunnya ia dari tidurnya di pagi hari. Bukankah pada saat itu ia masih aman dalam berbicara dan hanya sedikit mendesis?

Kemudian ketika ia mengeluhkan pekerjaannya pada kepala pegawai kantor barulah ia benar-benar mendesis sepenuhnya hingga tidak satu pun orang mengerti. Tak hanya suaranya yang berubah, namun secara motorik ia juga bergerak merangkak seakan-akan ia benar-benar serangga.
Yang aneh adalah, fungsi kognitifnya yang tidak berubah sama sekali. Ia masih dapat berpikir, berakal-sehat, berbudi luhur dan berempati. Bukankah jika fisik berubah, suara berubah, motorik berubah, harusnya otaknya pun ikut berubah bukan? Jika iya, maka kognitifnya akan berdampak meskipun secara pelan.

Meski dalam satu scene ketika ia keluar dari ruangan untuk menghampiri suara biola adiknya, sempat disinggung bahwa kebijaksanaannya menurun. Namun, diketahui bahwa ia terlalu peduli dengan skill adiknya tersebut. (Jika anda membacanya pasti tahu maksud saya). Sehingga, tentu ia tak dapat menahan diri untuk menunggu dan membiarkan skill adiknya direndahkan atau tidak diapresiasi oleh orang lain, terlebih ia disuruh berhenti bermain biola oleh 3 orang itu, tentu ego gregor semakin tersenggol. Sehingga penurunan kebijaksanaan tersebut terdapat konteks. Tapi, pada intinya sama. Kemampuan kognitifnya tidak berubah dan terus begitu saja hingga akhir hayatnya.

Itulah mengapa saya menduga gregor mengidap zoantropi. Terlebih tidak diceritakan mengapa ia menjadi serangga. Tidak ada penyihir, tidak ada cara menyembuhkan, tidak ada petualangan klise seperti menjelajahi gunung dan lainnnya. Meskipun memang buku ini konteksnya menceritakan keterasingan dan konflik dalam kehidupan sehari-hari, keluarga dan lingkup pekerjaan serta ekonomi.


Di sisi lain, saya tidak dapat menjelaskan bagaimana ia bisa memanjat dinding dan hinggap di langit-langit.



Notes: saya tidak membaca edisi ini, saya membaca buku dari 2 penerbit di Indonesia. Dari penerbit BACA (Bentara Aksara Cahaya) dan penerbit AHI (Anak Indonesia Hebat). Khusus untuk buku metamorfosis dari penerbit AHI tidak saya rekomendasikan karena banyak kesalahan terjemahan dan yang ke skip. Sehingga ceritanya jadi aneh. Banyak juga konteks yang berubah 180 derajat.

Secara keseluruhan, ini buku yang bagus dan seru. Mengundang saya untuk berpikir lebih banyak.
Ditulis 24 Mei 2026.
Deslon